Gara
-gara tidak mampu membayar SPP, Miftahul Jannah, yang akrab dipanggil Mita
nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Selepas magrib, bocah 13 tahun
yang tinggal di Kelurahan Karang Semande, Kecamatan Karang Malang, Balong
Panggang, Gresik, itu menggantungkan setagen sepanjang 395 cm warna putih di
lehernya…. Mengapa Mita bunuh diri? Atun, adik Sami (nenek korban), mengatakan,
korban stres dan bingung karena tidak punya uang biaya tur yang akan diadakan
sekolahnya. “Kalau tidak bisa bayar, katanya tidak boleh ikut rekreasi dan
ambil ijazah,” tuturnya. …. Mita juga sempat marah dan sakit hati ketika emak
embahnya berkata bahwa dirinya makan dan tidur tidak membayar. …. Hal tersebut
membuat bocah kelas 6 SDN Karang Semande ini sakit hati.
***
Penggalan
berita dari koran beberapa waktu yang lalu di atas merupakan cerminan dari
kondisi sosial di negara kita. Dalam kondisi yang seperti itulah kepedulian
kita terhadap sesama sangat dibutuhkan, terutama oleh orang-orang kecil seperti
Mita. Padahal, jika pada saat itu pihak sekolah memberikan keringanan dalam
pembayaran SPP, mungkin perstiwa tersebut tidak akan terjadi. Memang peristiwa
di atas tidak dapat dipersalahkan kepada pihak sekolah saja, karena Mita pun
sebenarnya tidak menyampaikan kesulitan yang dialaminya pada pihak sekolah.
Tetapi, jika sejak dini sekolah lebih peka di dalam memantau keadaan keluarga
para siswanya dan memberikan keringanan dalam pembayaran SPP ataupun melalui
pemberian beasiswa bagi mereka yang kurang mampu secara ekonomi, Mita mungkin
tidak akan berpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang seperti itu.
Kurangnya kepedulian dan perhatian membuat Mita nekat mengakhiri sendiri
hidupnya dengan gantung diri.
Kadangkala
kita memang terlalu asyik dengan apa yang ada pada diri kita sendiri.
Persoalan-persoalan pribadi, rutinitas kerja, harta, dan kesenangan-kesenangan
yang membuat kita lupa bahwa masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan
dari kita. Ironis memang jika kita mengingat bahwa sejak Sekolah Dasar pun kita
sudah dikenalkan dengan istilah makhluk sosial, dimana manusia tidak dapat
hidup sendiri dan saling tergantung dengan orang lain. Tapi itulah
kenyataannya, bahwa kita seringkali tidak peka terhadap sesama kita. Sekarang
ini semakin jarang orang yang mau mengulurkan tangannya untuk membantu
sesamanya. Contoh kecil, seringkali kita bersikap acuh tak acuh terhadap
pengemis-pengemis yang cacat fisik yang dapat kita jumpai di depan pusat-pusat
perbelanjaan. Padahal, mereka jelas-jelas sudah cacat dan tidak dapat mencari
uang dengan cara yang lain. Sebenarnya mereka pun terpaksa untuk melakukan hal
tersebut, jika bisa mereka ingin mencari sebuah pekerjaan yang lebih layak.
Contoh lainnya, mungkin kita seringkali bercekcok harga dengan tukang reparasi
payung untuk mendapatkan harga semurah-murahnya dalam memperbaiki payung.
Padahal, harga yang kita ributkan itu tidaklah seberapa jika kita bandingkan
dengan gaya hidup kita yang mewah dimana kita seringkali membeli barang-barang
yang manfaatnya tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan keahlian mereka
dalam memperbaiki payung dan manfaat dari payung itu sendiri. Mungkin tidak
pernah terpikirkan oleh kita jika pada hari itu,dia tidak menemukan pelanggan
lain selain kita maka mungkin dia tidak akan membawa sepeser uang pun. Bisa
kita bayangkan betapa beratnya dia untuk menafkahi keluarganya dengan
penghasilannya yang pas-pasan dan tidak menentu dalam setiap harinya. Apakah
orang-orang mungkin sudah melupakan ajaran sosial yang telah kita terima
sejak SD itu atau apakah orang-orang berpikiran bahwa dia hidup semata-mata
untuk mencari kepuasan diri dan memenuhi kepentingan dirinya sendiri???
Kurangnya
empati
Yang
jelas salah satu penyebab kurangnya kepedulian dan perhatian manusia terhadap
sesamanya adalah kurangnya atau bahkan tidak adanya rasa empati dari dirinya.
Empati lebih dalam dari rasa simpati, dimana seseorang benar-benar merasakan
posisi dan kondisi yang sedang dialami orang lain. Seseorang yang tidak
memiliki rasa empati dalam dirinya, tidak akan mampu merasakan penderitaan atau
kesusahan yang sedang dialami oleh orang lain. Akibatnya, dia tidak akan
berbelas kasihan bahkan terkesan cuek ketika menyaksikan sesamanya mengalami
kesusahan. Dia tidak akan merasa terpanggil untuk memberikan bantuan kepada
sesama mereka itu. Kita sebagai manusia dipanggil untuk mengasah rasa empati
kita setiap saat dalam kehidupan yang kita jalani sehingga kita mampu merasakan
penderitaan yang dialami oleh orang lain dan dapat berbelas kasihan kepada
mereka yang membutuhkan bantuan.
Keegosentrisan
“Paling
enak itu jadi orang cuek, nggak peduli sama orang lain. Buat apa mikirin orang
lain? Cape sendiri… elu jalanin hidup lu sendiri, gue jalanin hidup gue.”
Itulah komentar yang belakangan ini sering kita dengar dari mulut manusia.
Keegoisan manusia yang menganggap dirinya paling penting dan kepentingan orang
lain adalah nomor dua membuat hilangnya kepedulian. Manusia terlalu memikirkan
dirinya sendiri dan terlalu tidak mau tahu tentang orang lain. Manusia lebih
mengutamakan kepuasan dirinya sendiri, mencari uang, dan membeli televisi yang
berharga 70 juta misalnya. Padahal, sejak manusia dilahirkan, Tuhan pun sudah
mengingatkan bahwa manusia dilahirkan dengan memiliki keterikatan dengan orang
lain. Bayangkanlah apabila ketika ibu kita akan melahirkan kita, di sana tidak
ada bidan ataupun dokter yang mendampinginya, apakah ibu kita akan melahirkan
dengan lancar? Tentunya, diperlukan orang lain yang dapat membantu ibu kita
sehingga dapat melahirkan secara normal. Manusia dalam hidupnya selalu
membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, kita tidak seharusnya
menyepelekan atau cuek terhadap orang lain. Kita harus sadar bahwa kita
memerlukan orang lain dan orang lain juga memerlukan kita. Sudah seharusnya
kita saling membantu dengan sesama kita dan mengesampingkan ego-ego kita.
Apakah kita akan memilih perbuatan baik atau ego kita sendiri?
Konsistensi
Malam
itu Ani berdoa. “Tuhan, ….. saya juga ingin supaya Tuhan mencurahkan berkatMu
atas diri saya. Ajarlah saya juga untuk melakukan segala yang diperintahkan
olehMu, agar hidupku dapat berkenan di mataMu dan menjadi sumber sukacita dan
berkat bagi sesama. Amin.” Pada hari Minggu, dia pergi ke restoran karena sudah
memiliki janji dengan temannya. Di tengah jalan dia menyaksikan suatu peristiwa
tabrak lari. Sang korban terluka dan tidak dapat bangun karena dia jatuh dan
kakinya keseleo. Sang korban menjadi kebingungan karena di sana tidak ada orang
lain. Melihat kenyataan itu, Ani berlari dengan cepat sambil sembunyi-sembunyi
karena dia tidak mau direpotkan oleh sang korban. Dia tidak ingin terlambat
menemui temannya di restoran.
Selain
egois, kadang-kadang manusia juga munafik. Sebenarnya, kita sudah tahu bahwa
sejak kecil kita diperintahkan untuk saling mengasihi sesama kita seperti diri
kita sendiri dan kita juga meyakini kebenaran hal tersebut, tetapi dalam
kenyataannya kita tidak mau melakukan hal itu. Kita lebih tertarik untuk
melakukan hal-hal untuk memuaskan diri kita sendiri. Mungkin, sering kita
mengucapkan perintah untuk saling mengasihi sesama ini, tapi hal itu diucapkan
hanya oleh mulut saja tapi tidak dengan hati dan perbuatan. Di dalam hal ini,
manusia diingatkan untuk konsisten bahwa apa yang telah kita yakini dan ucapkan
haruslah nyata dalam tindakan. Berbicara tentang konsistensi, kita diingatkan
oleh cerita orang-orang Farisi dalam Alkitab. Mereka melakukan segala sesuatu
bukan karena didorong oleh panggilan hati yang jernih, melainkan sekedar
sebagai kewajiban keagamaan. Lebih jauh, malah, mereka melakukan banyak hal
supaya dilihat orang. Di sini, terlihat ketidak-konsistenan antara yang
diyakini dengan yang dilakukan. Minimal, terjadi pembelokkan tujuan. Puasa yang
seharusnya dilakukan sebagai bagian dari hubungan yang khusus dengan Tuhan,
kini dijadikan sarana pameran kesalehan. Ini jelas suatu ketidak-konsistenan.
Mereka mengajarkan Firman Allah tetapi tidak melakukannya. Mereka suka
sekali menjadi guru tapi tidak suka menjadi teladan. Seharusnya apa yang
diyakini harus terlihat dalam semua tingkah laku, dan dilakukan dengan motivasi
yang benar. Perintah Tuhan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri adalah
imperatif kategoris dimana perintah ini mutlak dilakukan untuk menjamin suatu
kondisi yang baik. Janganlah kita menjadi orang yang tidak konsisten karena
jika demikian kita telah mengambil langkah menuju kemunafikan.
Siapakah
sesama manusia itu?
Ada
seorang Yahudi yang dirampok penyamun sehingga mengalami luka-luka. Kemudian
lewat seorang Imam, tetapi ia diam saja. Ia hanya lewat tanpa peduli apa yang
terjadi. Lalu, beberapa saat kemudian lewatlah seorang Lewi (pembantu imam).
Namun, ia juga tidak melakukan apapun. Ia hanya lewat dan membiarkan seorang
Yahudi itu tergeletak di pinggir jalan seperti yang dilakukan oleh imam tadi.
Setelah orang Lewi itu lewat, lewatlah seorang Samaria. Berbeda dengan dua
orang sebelumnya, hati orang samaria ini tergerak oleh belas kasihan, ia
bersihkan luka orang Yahudi itu dengan minyak dan anggur (suatu benda yang
sangat berharga pada saat itu), memberi tumpangan di kudanya dan mengantarnya
ke sebuah penginapan. Ia juga meninggalkan biaya perawatan bagi orang Yahudi
yang tak dikenalnya itu, bahkan berjanji akan kembali untuk melunasi
kekurangannya.
Itulah
sepenggal kisah orang Samaria yang baik hati. Dalam kisah tersebut imam dan
orang Lewi tidak mau menolongnya. Mungkin mereka sedang terburu-buru atau
mereka tidak mau dinajiskan oleh darah orang yang terluka itu, karena dapat
mengganggu pelayanan dan tugas mereka di tempat ibadah. Tapi yang jelas,
kepekaan mereka tentang rasa kemanusiaan dan kasih kalah oleh orang Samaria
yang mau berkorban bagi orang yang memusuhi dan membencinya. Pada jaman itu,
orang Samaria kerapkali dilecehkan , dijauhi dan dimusuhi oleh orang Yahudi.
Dari ketiga orang yang lewat dalam cerita di atas, siapakah yang menjadi sesama
bagi orang lain dan menganggap orang lain adalah sesamanya???
Kisah
di atas telah menjawab pertanyaan yang menjadi sub judul di atas. Sesama
manusia adalah orang-orang yang ada di sekitar kita tanpa membedakan muka,
suku, budaya, agama, ras, dsb. Orang Samaria dalam cerita di atas telah
menunjukkan kasih yang luar biasa. Kasih yang mengatasi segala permusuhan,
perbedaan, dan kebencian. Begitu juga kita sebagai manusia, hendaklah kita
meneladani orang Samaria tersebut. Kita harus peduli dan mengasihi orang-orang
di sekitar kita tanpa harus melihat dulu latar belakang orang yang akan
ditolong, mukanya, ataupun agamanya. Seringkali kita tidak mau peduli dengan
orang lain karena kita menganggap mereka berbeda dengan kita, mereka jauh lebih
rendah derajatnya daripada kita, dan kita tidak layak bergaul dengan mereka.
Tapi, kita telah diingatkan bahwa kita harus menjadi sesama bagi siapapun dan
harus menjadikan siapapun sebagai sesama kita.
Murah
hati
Kasus
seperti Mita dapat dihindari jika kita semua lebih peduli dan lebih perhatian
terhadap Mita. Hal ini menuntut kemurahan hati dari kita, manusia. Murah hati
adalah rela memberi sesuatu kepada orang lain dengan tulus tanpa mengharapkan
imbalan. Namun, pemberian yang tulus itu mempertimbangkan ketepatan waktu,
bentuk dan manfaat bagi orang yang menerima, serta ketepatan motivasi dari sang
pemberi.
Jadi, dalam bermurah hati, kita harus ingat bahwa bantuan yang kita
berikan harus:
1. Tepat waktu. Bantuan kita tidak diulur-ulur atau ditunda
2. Tepat bentuk. Misalnya, bagi orang yang kelaparan, tentu tidak tepat apabila
kita memberi bantuan berupa “membacakan Alkitab dan mendoakannya” tanpa berbuat
sesuatu untuk mengurangi kelaparannya.
3. Tepat manfaat. Apakah yang kita berikan sesuai dengan kebutuhan atau tidak bagi
si penerima.
***
Apakah
yang bisa kita lakukan?
Penyakit
terbesar di dunia Barat pada zaman ini bukanlah TBC atau lepra, melainkan tidak
dibutuhkan oleh orang lain, tidak dicintai, dan tidak dipedulikan. Kita dapat
menyembuhkan penyakit fisik dengan obat-obatan tetapi satu-satunya penyembuhan
bagi kesepian, keputusasaan, dan hilang harapan adalah cinta…. ada kelaparan
akan cinta….(A Simple Path; hal. 49). Kira-kira itulah yang ingin Ibu Teresa
katakan kepada dunia. Dalam hidupnya, Ibu Teresa bersama dengan Tarekat yang ia
dirikan sendiri, Missionaris Cinta Kasih, telah melakukan pekerjaan besar. Ia
tanpa banyak bicara dan dengan efektif telah membantu 123 negara yang dilanda
penderitaan dan kekurangan ynag begitu mengerikan. Hal itu bisa kita lihat dari
rumah-rumah dan pusat-pusat yang ia dirikan yang sekarang mencakup tempat
bernaung bagi para tuna wisma dan klinik-klinik AIDS. Hidupnya ia gunakan untuk
melayani mereka yang tersisih dan terbuang dari masyarakat.
Dari
pengalaman hidup Ibu Teresa itu, kita dapat mempelajari banyak hal. Namun, pada
intinya kita dipanggil untuk berbagi cinta kasih dengan sesama. Mungkin,
kita tidak dapat menjadi seperti Ibu Teresa yang berkeliling dunia untuk
menjamah mereka yang membutuhkan perhatian, tetapi kita dapat memulainya dari
perkara-perkara yang kecil, dimulai dari teman-teman sepergaulan kita,
masyarakat di lingkungan kta tinggal, teman sekolah, dan sebagainya. Banyak
sekali hal yang dapat kita lakukan untuk mereka. Misalnya saja, menjadi tempat
curhat teman-teman kita, memberi perhatian kepada teman-teman kita, ikut
mensubsidi teman kita yang tidak mampu membayar SPP, ikut menyumbang kepada
korban bencana alam melalui kotak Peduli Kasih yang diedarkan di sekolah
ataupun di tempat-tempat lainnya atau bahkan ikut menjadi relawan ke daerah
bencana untuk memberi bantuan tenaga di dalam melayani mereka yang terkena
bencana. Jika sejak dini kita mau memperhatikan mereka yang ada di sekitar kita
dan berbagi kasih dengan mereka, maka akan tercipta suatu kondisi yang damai
dan mudah-mudahan tidak akan terulang lagi peristiwa yang menimpa Mita.
Inilah
panggilan saat ini. Kita dipanggil untuk mengasah empati kita, membuang keegoan
kita, tidak munafik, dan murah hati. Satu pertanyaan yang patut dijawab dan
memerlukan kekonsistenan adalah, “Maukah kita menjadi Ibu Teresa lain yang mau
berbagi cinta kasih dan kepedulian dengan sesama kita???”
Referensi
Purnama,
Danny. 2003. Murah Hati: Gimana Caranya?. Dalam Teens for Christ (edisi
November-Desember). Jakarta.
www.jawapos.com
Tim
Penulis dan Penghargaan
Tulisan
ini merupakan hasil karya saya (Jeffrey Kurniawan) dan tiga anggota tim yang
lain: Steffi Agatha, Ricky Kurniawan, dan Handy Tan. Tulisan di atas merupakan
draft versi pertama yang dibuat pada saat kami semua masih duduk di kelas 2
SMA. Tulisan ini telah memenangkan Juara 1 dalam lomba karya tulis (kategori
pelajar SMA) yang diadakan oleh Panitia HUT BPK Penabur ke-55. Karya ini juga
telah dimuat di Jurnal Pendidikan Penabur No. 05/Th. IV/ Desember 2005 dengan
judul “Berbagi Kasih dan Peduli Kasih Terhadap Sesama” yang telah mengalami
penyesuaian format sesuai dengan format jurnal.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar