Rabu, 12 Desember 2012

Suara Hati (Aku belum mati rasa)



Sebagaimana kita ketahui bersama bahwasannya walaupun pemerintah mengklaim bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat semakin baik sehingga dapat menekan angka kemiskinan di indonesia, tapi pada kenyataannya di lapangan masih nyata sekali kita temui banyaknya keluarga miskin yang menggantungkan hidupnya dari pertolongan orang lain. ironi memang jika di negara yang sangat kaya akan sumber daya alam ini, masih ada masyarakat yang bahkan tidak bisa menikmati hasil dari sumber daya alam itu. 

kesenjangan sosial sebagai akibat dari tidak meratanya kesempatan kerja atau pemerataan hasil pembangunan karena budaya Korupsi dan Nepotisme adalah salah satu penyebab utama hal ini. ditambah lagi gaya hidup masyarakatnya yang ingin serba instant sehingga lebih condong untuk memikirkan diri sendiri dan anggota keluarga atau kelompoknya saja diatas keinginan untuk menolong mereka yang memang benar-benar membutuhkan.
mungkin sulit untuk dipercaya. tapi adalah sebuah kenyataan bahwasannya dalam survey yang kami lakukan ternyata memang masih banyak terdapat keluarga miskin yang bahkan tidak bisa makan nasi (membeli beras) karena keadaan ekonomi keluarga yang serba sulit sehingga banyak anak muda yang terpaksa harus berhenti sekolah dan akhirnya bekerja untuk menunjang ekonomi keluarga. atau kalaupun bisa bersekolah, maka terpaksa harus berpuasa dan berjalan beberapa kilometer untuk bisa sampai ke sekolah karena tidak memiliki uang untuk bekal. tentu saja pemandangan seperti ini bukanlah satu-satunya kejadian yang ada di indonesia, Bali pada khususnya sebagaimana yang sering kita lihat dalam salah satu program "Andai Aku Menjadi..." yang ditayangkan oleh salah satu TV swasta di indonesia. tapi kami tetap ingin mempergunakan ruang ini untuk mengetuk hati para pembaca untuk sedikit meluangkan waktunya guna merenung dalam himpitan waktu untuk menghitung (Bisnis) bahwasannya di luar sana masih banyak tangan-tangan yang terangkat untuk memohon pertolongan atas kesusahan yang sedang mereka derita saat ini. Hands that help are holier than lips are pray. (Tangan-tangan yang memberikan pertolongan lebih mulia dari bibir yang hanya berkomat-kamit membaca do'a)
Tidakkah hati ini menjadi terketuk iba jika menyaksikan dan merasakan kesusahan mereka. Apa gunanya segala kemewahan hidup ini sementara kita membiarkan saudara yang lain tenggelam dalam penderitaannya. sementara kita makan makanan yang enak dan mahal, diluar sana saudara kita masih bergelut dengan sampah mengais rejeki untuk sesuap nasi. 

Saat kita tidur nyenyak diatas kasur empuk yang berlapis-lapis, saudara kita di luar sana menggigil kedinginan di atas tikar yang sudah robek-robek.
memang...ini adalah takdir yang dibuatnya sendiri. tapi hari ini kita dititipkan kelebihan oleh Yang Kuasa, bukanlah untuk dinikmati sendiri. kelebihan dan kecukupan ini semestinya dibagi kepada mereka yang saat ini sangat membutuhkan. 
karena hanya dengan demikianlah kita bisa lebih layak dihormati sebagai manusia

(Aku belum mati rasa. Aku tidak buta dan juga tidak tuli untuk sekedar merasakan derita saudaraku itu, sebagaimana aku tak ingin Tuhan memalingkan wajah-Nya saat aku ada dalam kesusahan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar