Sebagaimana
kita ketahui bersama bahwasannya walaupun pemerintah mengklaim bahwa tingkat
pertumbuhan ekonomi masyarakat semakin baik sehingga dapat menekan angka
kemiskinan di indonesia, tapi pada kenyataannya di lapangan masih nyata sekali
kita temui banyaknya keluarga miskin yang menggantungkan hidupnya dari
pertolongan orang lain. ironi memang jika di negara yang sangat kaya akan
sumber daya alam ini, masih ada masyarakat yang bahkan tidak bisa menikmati
hasil dari sumber daya alam itu.
kesenjangan sosial sebagai akibat dari tidak
meratanya kesempatan kerja atau pemerataan hasil pembangunan karena budaya
Korupsi dan Nepotisme adalah salah satu penyebab utama hal ini. ditambah lagi
gaya hidup masyarakatnya yang ingin serba instant sehingga lebih condong untuk
memikirkan diri sendiri dan anggota keluarga atau kelompoknya saja diatas
keinginan untuk menolong mereka yang memang benar-benar membutuhkan.
mungkin
sulit untuk dipercaya. tapi adalah sebuah kenyataan bahwasannya dalam survey
yang kami lakukan ternyata memang masih banyak terdapat keluarga miskin yang
bahkan tidak bisa makan nasi (membeli beras) karena keadaan ekonomi keluarga
yang serba sulit sehingga banyak anak muda yang terpaksa harus berhenti sekolah
dan akhirnya bekerja untuk menunjang ekonomi keluarga. atau kalaupun bisa
bersekolah, maka terpaksa harus berpuasa dan berjalan beberapa kilometer untuk
bisa sampai ke sekolah karena tidak memiliki uang untuk bekal. tentu saja
pemandangan seperti ini bukanlah satu-satunya kejadian yang ada di indonesia,
Bali pada khususnya sebagaimana yang sering kita lihat dalam salah satu program
"Andai Aku Menjadi..." yang ditayangkan oleh salah satu TV swasta di
indonesia. tapi kami tetap ingin mempergunakan ruang ini untuk mengetuk hati
para pembaca untuk sedikit meluangkan waktunya guna merenung dalam himpitan
waktu untuk menghitung (Bisnis) bahwasannya di luar sana masih banyak tangan-tangan
yang terangkat untuk memohon pertolongan atas kesusahan yang sedang mereka
derita saat ini. Hands that help are holier than lips are pray. (Tangan-tangan
yang memberikan pertolongan lebih mulia dari bibir yang hanya berkomat-kamit
membaca do'a)
Tidakkah
hati ini menjadi terketuk iba jika menyaksikan dan merasakan kesusahan mereka. Apa
gunanya segala kemewahan hidup ini sementara kita membiarkan saudara yang lain
tenggelam dalam penderitaannya. sementara kita makan makanan yang enak dan
mahal, diluar sana saudara kita masih bergelut dengan sampah mengais rejeki
untuk sesuap nasi.
Saat
kita tidur nyenyak diatas kasur empuk yang berlapis-lapis, saudara kita di luar
sana menggigil kedinginan di atas tikar yang sudah robek-robek.
memang...ini
adalah takdir yang dibuatnya sendiri. tapi hari ini kita dititipkan kelebihan
oleh Yang Kuasa, bukanlah untuk dinikmati sendiri. kelebihan dan kecukupan ini
semestinya dibagi kepada mereka yang saat ini sangat membutuhkan.
karena hanya
dengan demikianlah kita bisa lebih layak dihormati sebagai manusia
(Aku
belum mati rasa. Aku tidak buta dan juga tidak tuli untuk sekedar merasakan
derita saudaraku itu, sebagaimana aku tak ingin Tuhan memalingkan wajah-Nya
saat aku ada dalam kesusahan)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar