Rabu, 12 Desember 2012

Dharsan Shiva Parvathi



Dalam salah satu Devine discourse-Nya, Svami pernah menceritakan kisah menarik tentang drama yang pernah dimainkan oleh Lord Shiva dengan Sakti beliau Ibu dewi Parvathi guna menguji kesungguhan bhakti umatnya.

.......suatu hari di Kailasha, dewi Parvathi bertanya kepada shiva, "Tuanku, saya mendengar, katanya semua orang yang mengunjungi Kaashi, tempat suci yang terkenal untuk memuja paduka, akan dapat mencapai kailasha dan tinggal selamanya disini dalam kehadiran Paduka. jutaan orang telah datang ke tempat ziarah itu untuk berbhakti dan memuja paduka. tetapi apakah kailasa akan cukup untuk menampung mereka semua?" shiva menjawab," dari jutaan orang yang melakukan pemujaan itu, tidak semua orang akan dapat mencapai tempat ini (Sorga yang dicita-citakan oleh seluruh umat manusia). Aku akan memainkan sebuah drama bersamamu agar jelas alasannya.

kedua insan surgawi itu turun ke bhumi untuk memainkan sebuah drama. Ibu Dewi Parvathi menjelmakan diri menjadi nenek berusia 80 tahun yang buruk rupa sedangkan dewa Shiva menjelma sebagai kakek jompo berusia 90 tahun. sang nenek sedang memangku kepala sang kakek, tepat di depan gerbang utama tempat ibadah untuk memuja dewa shiva sebagai Visveshvara (Penguasa jagat raya). Dengan nada memelas sang nenek mulai memohon kepada para peziarah yang lewat menuju tempat ibadah. "Suami saya sangat kehausan. Ia hampir mati karena haus. saya tidak dapat meninggalkannya dan pergi ke sungai gangga untuk mengambilkan air baginya karena takut jika saat mengambilkan air ia akan meninggal. maukah kalian menuangkan sedikit air ke tenggorokannya?"

para peziarah yang datang dari ghat (tempat mandi di bagian sungai yang dangkal) setelah menyelesaikan ritual mandi di sungai gangga yang suci. berjalan beriringan membawa air dalam sebuah kendi yang mengkilat untuk dipakai abhiseka (Pemandian) arca dewa Shiva. mereka sama sekali tidak tergerak akan penderitaan kedua orang tua itu.ada yang mengatakan bahwa Ia akan menolongnya setelah menyelesaikan pemujaan kepada Lord Vishveshvara, ada yang berjanji memberikan air jika airnya telah dipakai untuk abhiseka sehingga menjadi Prasad yang suci.beberapa diantaranya hanya berjalan cuek seakan tak melihat ada orang yang meminta tolong. yang lainnya bahkan menggerutu karena merasa bahwa kosentrasi dan kekhusyukan bhakti mereka telah  terganggu oleh kehadiran pasangan tua itu.tidak seorangpun yang menawarkan bantuan yang dibutuhkan sang kakek.
pada waktu itu seorang pencuri yang sedang bergegas masuk, mendengar suara ratapan sang nenek. ia berhenti di dekat mereka dan bertanya kepada wanita yang sudah lanjut usia itu. "Ada apa nek?" Sang nenek menjawab "Nak, kami datang kesini untuk ikut melakukan puja guna mendapatkan dharsan Vishveshvara di Kaashi, tetapi suami saya pingsan karena terlalu lemah dari berjalan jauh. mungkin Ia bisa bertahan hidup kalau ada orang yang membawakan air minum dan menuangkan ke tenggorokannya. saya tidak bisa mengambilkannya disini untuk mengambil air sungai gangga. kalau engkau tidak keberatan tolonglah saya"
Pencuri itu merasa iba.ia mempunyai sedikit air dari sungai suci gangga yang dibawanya dalam botol labunya.ia berlutut di dekat kakek sekarat yang sedang dipangku sang nenek. tetapi pada saat sang pencuri mau menuangkan air ke dalam mulut suaminya. sang nenek menghentikannya sambil berkata "begitu air sungai gangga yang suci membasahi kerongkongannya, mungkin suami saya akan meninggal. ia sedang berada dalam tahap terakhir kehidupannya. karena itu, ucapkanlah sepatah kata yang benar, dan tuangkan airnya. pencuri itu tidak mengerti maksud sang nenek, maka nenek itu menjelaskan "Katakan beberapa perbuatan baik yang telah engkau lakukan dalam hidupmu, cukup keras sehingga suamiku dapat mendengarnya. lalu tuangkanlah air itu kedalam mulutnya.
hal ini menimbulkan masalah bagi si pencuri. ia kebingungan karena sama sekali tidak dapat memenuhi permintaan itu. ia berkata "nek, sesungguhnya selama ini saya belum pernah melakukan perbuatan baik. saat inipun saya kesini sebenarnya hanya untuk mencuri barang-barang bawaan para peziarah yang ditinggalkan di depan kuil. satu-satunya kebaikan yang pernah saya lakukan untuk orang lain adalah tindakan ini saat saya memberikan air kepada suami nenek yang sedang memerlukan air karena kehausan". setelah itu, sang pencuri menempelkan botol labu yang berisi air ke mulut sang kakek dan membiarkan ia meneguknya.pada saat itu, pasangan uzur itu lenyap dan di tempat mereka telah berdiri Lord Shiva dan Parvathi dengan segala kecemerlangan-Nya sambil mengangkat tangan dalam sikap abhaya memberkati si pencuri.

Shiva berkata "Nak, hidup itu harus diabdikan untuk menolong dan melayani mahluk lain, bukan dilewatkan semata-mata untuk kepentingan diri sendiri. betapapun banyaknya perbuatan jahat yang mungkin telah engkau lakukan selama ini, untuk persembahan air sungai gangga yang kau lakukan tanpa pamerih sambil mengucapkan kebenaran, kami memberkati engkau dengan penampakan ini yang sangat jarang didapat bahkan oleh mereka yang mengaku telah berbhakti kepadaku. ingatlah bahwa tidak ada moralitas yang lebih luhur daripada kebenaran, dan tidak ada doa yang lebih bermanfaat daripada seeva (Pertolongan) yang dilakukan kepada orang lain dengan penuh kasih dan tanpa pamerih.

Demikianlah bagaimana dewa Shiva menjelaskan kepada dewi Parvathi kenapa tidak semua orang yang telah mengunjungi kaashi  atau bersembahyang ke tempat-tempat suci akan diberikan kesempatan untuk menikmati kehidupan surgawi karena mereka melupakan bahwa Tuhan yang sama juga hadir dalam setiap mahluk sebagai sang Jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar