Dalam salah satu
Devine discourse-Nya, Svami pernah menceritakan kisah menarik tentang drama
yang pernah dimainkan oleh Lord Shiva dengan Sakti beliau Ibu dewi Parvathi
guna menguji kesungguhan bhakti umatnya.
.......suatu
hari di Kailasha, dewi Parvathi bertanya kepada shiva, "Tuanku, saya
mendengar, katanya semua orang yang mengunjungi Kaashi, tempat suci yang
terkenal untuk memuja paduka, akan dapat mencapai kailasha dan tinggal
selamanya disini dalam kehadiran Paduka. jutaan orang telah datang ke tempat
ziarah itu untuk berbhakti dan memuja paduka. tetapi apakah kailasa akan cukup
untuk menampung mereka semua?" shiva menjawab," dari jutaan orang
yang melakukan pemujaan itu, tidak semua orang akan dapat mencapai tempat ini
(Sorga yang dicita-citakan oleh seluruh umat manusia). Aku akan memainkan
sebuah drama bersamamu agar jelas alasannya.
kedua
insan surgawi itu turun ke bhumi untuk memainkan sebuah drama. Ibu Dewi
Parvathi menjelmakan diri menjadi nenek berusia 80 tahun yang buruk rupa
sedangkan dewa Shiva menjelma sebagai kakek jompo berusia 90 tahun. sang nenek
sedang memangku kepala sang kakek, tepat di depan gerbang utama tempat ibadah
untuk memuja dewa shiva sebagai Visveshvara (Penguasa jagat raya). Dengan nada
memelas sang nenek mulai memohon kepada para peziarah yang lewat menuju tempat
ibadah. "Suami saya sangat kehausan. Ia hampir mati karena haus. saya
tidak dapat meninggalkannya dan pergi ke sungai gangga untuk mengambilkan air
baginya karena takut jika saat mengambilkan air ia akan meninggal. maukah
kalian menuangkan sedikit air ke tenggorokannya?"
para
peziarah yang datang dari ghat (tempat mandi di bagian sungai yang dangkal)
setelah menyelesaikan ritual mandi di sungai gangga yang suci. berjalan
beriringan membawa air dalam sebuah kendi yang mengkilat untuk dipakai abhiseka
(Pemandian) arca dewa Shiva. mereka sama sekali tidak tergerak akan penderitaan
kedua orang tua itu.ada yang mengatakan bahwa Ia akan menolongnya setelah
menyelesaikan pemujaan kepada Lord Vishveshvara, ada yang berjanji memberikan
air jika airnya telah dipakai untuk abhiseka sehingga menjadi Prasad yang
suci.beberapa diantaranya hanya berjalan cuek seakan tak melihat ada orang yang
meminta tolong. yang lainnya bahkan menggerutu karena merasa bahwa kosentrasi
dan kekhusyukan bhakti mereka telah terganggu oleh kehadiran pasangan tua
itu.tidak seorangpun yang menawarkan bantuan yang dibutuhkan sang kakek.
pada
waktu itu seorang pencuri yang sedang bergegas masuk, mendengar suara ratapan
sang nenek. ia berhenti di dekat mereka dan bertanya kepada wanita yang sudah
lanjut usia itu. "Ada apa nek?" Sang nenek menjawab "Nak, kami
datang kesini untuk ikut melakukan puja guna mendapatkan dharsan Vishveshvara
di Kaashi, tetapi suami saya pingsan karena terlalu lemah dari berjalan jauh.
mungkin Ia bisa bertahan hidup kalau ada orang yang membawakan air minum dan
menuangkan ke tenggorokannya. saya tidak bisa mengambilkannya disini untuk
mengambil air sungai gangga. kalau engkau tidak keberatan tolonglah saya"
Pencuri
itu merasa iba.ia mempunyai sedikit air dari sungai suci gangga yang dibawanya
dalam botol labunya.ia berlutut di dekat kakek sekarat yang sedang dipangku
sang nenek. tetapi pada saat sang pencuri mau menuangkan air ke dalam mulut
suaminya. sang nenek menghentikannya sambil berkata "begitu air sungai
gangga yang suci membasahi kerongkongannya, mungkin suami saya akan meninggal.
ia sedang berada dalam tahap terakhir kehidupannya. karena itu, ucapkanlah
sepatah kata yang benar, dan tuangkan airnya. pencuri itu tidak mengerti maksud
sang nenek, maka nenek itu menjelaskan "Katakan beberapa perbuatan baik
yang telah engkau lakukan dalam hidupmu, cukup keras sehingga suamiku dapat
mendengarnya. lalu tuangkanlah air itu kedalam mulutnya.
hal
ini menimbulkan masalah bagi si pencuri. ia kebingungan karena sama sekali
tidak dapat memenuhi permintaan itu. ia berkata "nek, sesungguhnya selama
ini saya belum pernah melakukan perbuatan baik. saat inipun saya kesini
sebenarnya hanya untuk mencuri barang-barang bawaan para peziarah yang
ditinggalkan di depan kuil. satu-satunya kebaikan yang pernah saya lakukan
untuk orang lain adalah tindakan ini saat saya memberikan air kepada suami
nenek yang sedang memerlukan air karena kehausan". setelah itu, sang
pencuri menempelkan botol labu yang berisi air ke mulut sang kakek dan
membiarkan ia meneguknya.pada saat itu, pasangan uzur itu lenyap dan di tempat
mereka telah berdiri Lord Shiva dan Parvathi dengan segala kecemerlangan-Nya
sambil mengangkat tangan dalam sikap abhaya memberkati si pencuri.
Shiva
berkata "Nak, hidup itu harus diabdikan untuk menolong dan melayani mahluk
lain, bukan dilewatkan semata-mata untuk kepentingan diri sendiri. betapapun
banyaknya perbuatan jahat yang mungkin telah engkau lakukan selama ini, untuk
persembahan air sungai gangga yang kau lakukan tanpa pamerih sambil mengucapkan
kebenaran, kami memberkati engkau dengan penampakan ini yang sangat jarang
didapat bahkan oleh mereka yang mengaku telah berbhakti kepadaku. ingatlah
bahwa tidak ada moralitas yang lebih luhur daripada kebenaran, dan tidak ada
doa yang lebih bermanfaat daripada seeva (Pertolongan) yang dilakukan kepada
orang lain dengan penuh kasih dan tanpa pamerih.
Demikianlah
bagaimana dewa Shiva menjelaskan kepada dewi Parvathi kenapa tidak semua orang
yang telah mengunjungi kaashi atau bersembahyang ke tempat-tempat suci
akan diberikan kesempatan untuk menikmati kehidupan surgawi karena mereka
melupakan bahwa Tuhan yang sama juga hadir dalam setiap mahluk sebagai sang
Jiwa.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar